Menurut Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki “rendahnya produktivitas dan daya saing UMKM masih menjadi problem klasik, sehingga tidak mammpu bersaing di pasar. Para pelaku UMKM yang didominasi usaha mikro masih melakukan kegiatan usahanya secara perorangan, katanya.
“Untuk itu, koperasi bisa menjadi model bisnis di Indonesia dengan berbasis UMKM,” katanya, di Bandung, pada Jumat tanggal 2 April 2021 kemarin. Ia mencontohkan, sektor pangan yang masih impor beberapa komoditas mulai dari kedelai, beras, hingga jagung, menunjukkan produktivitas petani yang rendah, karena usaha perorangan tidak bisa masuk skala ekonomi. Menurutnya, mayoritas petani lokal memiliki lahan yang sempit, sehingga tercipta keterbatasan dalam hal kualitas dan suplai produk.
“Lagi-lagi, dalam kondisi seperti itu, koperasi bisa mengkonsolidasi petani-petani berlahan sempit tersebut,” kata Pak Menteri. Dan ia menilai, koperasi bisa mengkonsolidasi usaha-usaha kecil tersebut menjadi skala ekonomi. “Kami sudah memiliki kajian terhadap produk buah pisang yang memiliki pangsa pasar bagus di luar negeri. Di mana untuk masuk skala ekonomi, harus berlahan paling sedikit 400 hektar,” ujarnya. Ia juga berharap, fungsi tengkulak bisa digantikan koperasi. Nantinya koperasi membeli produk petani yang akan diserap offtaker.
Selain itu, Pak Menteri juga menilai warung-warung milik rakyat tidak akan bisa melawan jaringan ritel modern. Oleh karena itu penting untuk bergabung ke koperasi agar bisa berkonsolidasi dan membangun semacam pusat distribusi. Ia mengajak koperasi-koperasi besar untuk masuk ke sektor produksi, seperti pertanian, kelautan, peternakan, dan sebagainya. Di samping itu, Ia juga mendorong koperasi untuk melakukan modernisasi dengan pola digitalisasi dalam melayani anggotanya.






